Masjid Raya Nagari Kota Nan Empat

Wakaf dari Empat Kaum

 Nagari Kota Nan Empat yang terletak di Kodya Payakumbuh, Sumatra Barat, memiliki sebuah masjid raya yang diperkirakan berusia satu setengah abad lebih. Berdasarkan pengakuan seorang nenek yan meninggal pada tahun 1943 dalam usia 103 tahun, dapat diperkirakan Masjid bahwa Masjid Raya Nagari Kota Nan Empat tersebut didirikan sekitar tahun 1840.

masjid nagari kota nan empatMasjid Raya yang namanya dinisbatkan kepada nama tempat didirikannya, yakni Nagari Kota Nan Empat, didirikan di tengah-tengah berdampin dengan balairung (balai adat) sebagai perlambang adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah (Al-Qur’an).

Bentuk dan arsitektumya yang khas Minangkabau, yakni beratap tiga tingkat dengan sebuah kubah gonjong yang menjulang tinggi dan sisinya yang lentik, memberikan kesan yang kuat,betapa agama Islam sudah begitu menyatu dengan kehidupan alam Minangkabau. Di satu menegaskan bahwa masyarakat Minang di samping sebagai masyarakat yang teguh memegang syariat Islam (religius), juga teguh memegang adat istiadatnya. Tidak usah heran, karena ada pepatah Minang vang berbunyi: syara’ mangato, adat mamakai. Artinya, sesuatu yang telah ditetapkan oleh syara’, dilaksanakan menurut adat yang berlaku.

Luas bangunan masjid seluruhnya 289 m2 (17 x 17 m) berdiri di atas tanah seluas 1550 m2 (50 x 31 m), wakaf dari empat kaum, yaitu kaum Datuk Rajo Mantiko Alam dan kaum Datuk Bangso Dirajo Nan Hitam, keduanya dari pesukuan Simabur, kaum Datuk Paduko Majo Lelo, serta kaum Datuk Sinaro Kayo dari pesukuan Bodi. Sampai sekarang tetap diakui oleh empat kaum yang bersangkutan. Tanah ini telah didaftarkan pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kodya Payakumbuh sebagai tanah wakaf.

Walaupun usia masjid raya ini sudah lebih dari satu setengah abad tetapi semua tonggak, lantai, dan dinding kayunya masih ada yang belum rusak. Hanya atapnya saja yang berganti dari ijuk menjadi seng.

Sebagai sebuah masjid milik masyarakat, di samping berfungsi sebagai tempat ibadah dan memperdlam ajaran agama, masjid ini juga sekaligus digunakan sebagai tempat bermusyawarah.